(sumber : instagram story @StandUpIndo_MLG)

ULTRAS TAWA LEAGUE BELUM BERAKHIR (SEBUAH TEROR UNTUK GRUP 3?)

Membaca tulisan Fajar Mukti di postingn sebelumnya yang berjudul “Ultras Tawa League (UTL) Grup 3: Suportif Kompetitif Neraka” tentu memancing reaksi. Fajar sendiri merupakan anggota dari grup 3 UTL yang disebut-sebut sebagai grup neraka itu. Tentu objektifitas penulisannya dipertanyakan dalam hal ini. Tanpa maksud ingin menyudutkan si penulis, namun tulisan tersebut seakan menunjukan bahwa yang bersangkutan adalah sosok penjilat yang handal, dengan menjilati grupnya sendiri. Demi gimmick dan demi Rating, begitulah kiranya.

Ya, putaran pertama Ultras Tawa League telah berakhir. Namun akhir dari putaran pertama ini justru melahirkan masalah baru. Tentunya persaingan pada level yang lebih panas pada putaran berikutnya. Betapa tidak, sejak awal ketika hasil plot Ultras Tawa League yang kemudian membagi 21 peserta komika Malang ini dalam tiga grup di-release ke publik, perang memang langsung dimulai. Grup 3 adalah jagoan, langsung banjir dengan pujian. Disebut sebagai grup neraka karena diisi oleh komika veteran, pemakan segala, juga penyanyi yang juga seakan istimewa sendiri.  Grup 3 sudah diatas angin, bahkan sebelum betanding.

Memberikan pujian tentu maksudnya baik, yaitu untuk membangun mental kompetitif dan membuat ruh kompetisi ini menjadi lebih hidup. Namun ibarat dua sisi mata uang, pujian yang seakan berlebihan kepada grup 3 justru memancing amarah dari grup lainnya. Tentu itu  muncul dari jagoan di masing – masing grup.

Publik tentu kenal dengan dengan Imam dan Bahaq di Grup 1. Imam ini merupakan line up SUN 7 Malang, sebuah event akbar yang baru saja diadakan beberapa waktu lalu. Imam memiliki penampilan luar biasa waktu itu. Dan Bahaq sendiri adalah opener Nalar Pendek Tour dari Firman Singa (SUCI 6 Kompas TV). Disisi lain, di Grup 2 juga tidak mungkin untuk diabaikan begitu saja. Adalah nama besar Rizki si Juara bertahan Ultras Tawa Season pertama. Berbekal pengalaman yang dimiliki di kompetisi sebelumnya, tentu meremehkan Rizki dan anggota lainnya dalam perebutan juara adalah sebuah kesalahan besar.

Harus diakui bahwa putaran pertama Grup 3 adalah penampilan terbaik sejauh ini yang saya tonton. Saya dan teman-teman lain yang merupakan anggota dari grup 1 harus menerima  keunggulan mereka. Namun bedanya adalah saya malah minder dengan diri  saya sendiri, tapi teman – teman yang lain justru menganggap ini sebuah tantangan. Adalah Bahaq dan Imam, komika idola saya dari grup 1. Bahaq si komika pecinta Korea yang dikenal pendiam dan memiliki julukan “satu kata satu tawa” ini rupanya agak sedikit panas. Meski terlihat kurus seperti pecandu narkoba dengan rambut pirangnya, Bahaq seakan naik pitam. Satu komentar yang saya catat dari Bahaq waktu itu, “Santai aja Mas Uqi, grup 3 karirnya nggak akan panjang. Hanya manis diawal. Toh nanti akan hancur juga di putaran kedua”. Terdengar meremehkan. Namun saya justru bersyukur karena dua hal. Pertama, adalah Bahaq mau berkomentar. Karena Bahaq sebenarnya adalah sosok yang pendiam. Dan yang kedua adalah dibalik tampang pecandunya ternyata Bahaq adalah sosok dengan motivasi yang besar. Hampir senada dengan Bahaq, Imam si komika pemilik kulit dengan pigmentasi warna yang sedikit redup ini justru berkomentar dengan sedikit aneh. Terutama untuk Radita Budi dan Pak De Budi di Grup 3.”Pak De Budi itu sudah tua, Mas. Belum menikah, pasti lebih fokus mencari jodoh daripada menulis materi. Kalo Radita Budi? Gimana ya? Sama aja sih, tanpa nyanyi di panggung, Radita Budi hanyalah seorang mahasiswa biasa di kampus tidak ternama”.

Tidak berhenti sampai disitu. Dikesempatan yang berbeda saya juga sempat mewawancarai Rizki si juara bertahan UTL season satu yang juga merupakan idola dari Grup 2 terkait pendapatnya tentang Grup 3. Berbeda dengan dua komik yang sebelumnya, tak ada komentar sepatah-kata pun dari pria bernama lengkap Rizki Rubiyanto ini. Namun senyum sinisnya waktu itu seakan ingin mengatakan, “Apakah anda meremehkan kemampuan berkomedi dari Juara Bertahan UTL ?”. Wow, Saya juga hanya bisa terdiam sejenak kemudian membalasnya dengan senyuman, sambil berkata dalam hati, “Tentu tidak dong, Anda sangat lucu waktu tampil di SUN 7 Malang”. Ya, untuk saat itu, kami memang seakan bisa berkomunikasi dari hati ke hati.

Komentar dari beberapa jagoan grup ini seakan ingin menunjukan sudut pandang lain dalam kompetisi ini. Bahwa Ultras tawa belum final, kompetisi ini masih panjang dan semua kemungkinan masih akan bisa terjadi. Harapan itu akan selalu ada. Nothing is impossible.

Meski demikian, saya sendiri tidak begitu paham dengan reaksi anggota grup 3. Jika saja nanti peserta grup 3 membaca tulisan ini, pertanyaannya adalah, ”Apakah semangat mereka akan semakin membara atau justru malah sebaliknya?”. Lalu jika tulisan ini kemudian dianggap sebagai terror untuk melemahkan, maka publik tentu akan menilai bahwa sebutan “neraka” hanyalah julukan semata tanpa ada alasan yang konkrit. Karena logikanya adalah kompetitor sejati tak punya alasan untuk kalah. Apakah neraka yang dikenal panas dan membakar di putaran pertama kemudian hanya akan tinggal sebuah cerita karena apinya padam disirami teror psikologis dari grup yang lain?. Wallahua’lam, tidak ada yang tahu.