Ultras Tawa League (UTL) Grup 3: Suportif Kompetitif Neraka

“merupakan grup neraka yang berisikan pemain berkawakan yang penuh dosa dan jauh dari agama serta jodohnya. Mereka bersaing dengan ketat demi merebutkan posisi 1 dan 2 untuk bisa lanjut ke semifinal. Bukan hanya gengsi yang diperebutkan tapi juga masa depan mereka, karena konon katanya yang dapat posisi paling bawah harus rela menyuapi peserta lain setiap makan malam selama seminggu. Heemm sangat menakutkan sekali.”

Kutipan di atas dari akun instagram resmi @standupido_MLG dan @ultrastawa mungkin terkesan berlebihan juga mengada-ada. tetapi putaran pertama UTL telah menyelesaikan penampilan dari 21 peserta komika yang terbagi menjadi 3 grup ini, membuktikan bahwa grup terakhir atau grup 3 sepertinya memang layak disebut sebagai grup neraka. Jika kalian menonton penampilan dari setiap grup atau mengikuti perkembangan klasemen sementara, tentu kalian mengerti apa yang saya maksud.

Tidak ada komika yang tidak lucu malam itu, ketujuh peserta tampil apik. Bahkan untuk komika yang dianggap takaran prosentasi kelucuannya tidak layak untuk dibicarakan, secara mengejutkan tampil dengan kepercayaan diri tinggi dan punchline mengagetkan. Menjadi malam yang berkesan bagi penonton malam itu, pengorbanan waktu serta mungkin sengaja datang ke tempat berlangsungnya UTL untuk berharap mendapat hiburan tentu mereka dapati, lalu mereka akan pulang dengan senyum sumringah dibarengi membicarakan beberapa jokes satu sama lain yang masih tertinggal di dalam pikiran mereka.

saya tidak akan menelaah penampilan dari setiap komika, biarlah itu menjadi keunikan perspektif masing-masing pribadi. Selain itu, saya juga merupakan salah satu peserta dalam grup 3 ini yang pasti akan ada sisi subjektifitas dominan saya dalam menilai penampilan setiap komika. Tentu saja saya akan me-review penampilan saya sendiri dengan sebaik-baiknya, karena itu menurut saya, gak tau menurut Mas Anang gimana. anyway, Saya akan menceritakan bagaimana betapa saling sikut antar komika terjadi, meskipun di sisi lain para komika ini saling mendukung satu sama lain. Saya mencoba lepaskan sisi teknis dan betapa lucunya malam itu, saya akan mengajak kalian melihat sisi kemanusiaan beberapa peserta melewati malam itu.

Peserta pertama tampil yang kebetulan komika itu adalah Kipli, sudut pandang saya sebagi penonton berpendapat Kipli tampil dan membuka dengan baik. Maka percayalah, “baik” buat kalian sebagai penonton adalah “bencana” bagi kami para peserta. Komika lucu yang tampil melakukan serangan semacam psywar untuk komika selanjutnya, perang psikologi yang saya maksud adalah Kipli memberi bukti kepada komika setelahnya bahwa dia mampu memecahkan penonton. Dia sah untuk jemawa kepada komika setelahnya, Dan apabila Kipli sadar akan itu, penampilan suksesnya dapat dimanfaatkan untuk secara langsung menjatuhkan mental lawan ketika mereka hendak tampil ke atas panggung. Dengan penampilan pertama yang pecah oleh Kipli, seakan persaingan berikutnya akan sengit. Kipli seperti memberi tanda “ayo perang ini sudah aku mulai!”

Urutan penampil berikutnya adalah Ical, Radita Budi, Ricky, Fajar Mukti (saya), Anindio, lalu ditutup oleh Pakde Budi. Selayak penampil pada umumnya, perasaan gugup serta raut wajah ketakutan terpancar dari wajah-wajah  mereka. Slentingan serta penyerangan verbal seakan lumrah untuk menjatuhkan lawan. Bahkan diksi berupa pujian dari komika nonpeserta akan terasa menyakitkan jika ada dalam posisi itu. Saya coba beri tahu kalian, jika kalian komika, pujian dari komika lain adalah berbahaya. Hal ini bisa berarti banyak makna, pujian itu memang perasaan kekaguman atau juga pujian itu adalah sebuah serangan psikologi agar menjadi terlena dan menjadi overconfidence yang jatuhnya nanti akan meremehkan panggung. Efek paling berbahaya dari banyaknya pujian ini adalah starsyndrome. Tentu kalian sudah tahu akhir cerita dari komika yang terlena banyaknya pujian ini. Ya, tidak lucu.

Jujur, peserta yang menunggu urutan tampil tidak akan bisa tertawa lepas selayaknya penonton. Mereka tidak akan tenang melihat komika yang tampil mampu mendapat tawa. Antara tertekan, membaca selera penonton dan kagum mengamati materi yang disampaikan. Berbagai cara maupun “ritual” untuk mengalihkan kegugupan sangat kentara tampak dari masing-masing peserta. bahkan untuk komika yang terhitung lama dan pasti lucu malam itu tidak bisa menghindari kegugupan. Radita budi sang pemuncak klasemen saja tidak bisa diajak bercanda sebelum dia selesai tampil, dia akan galak selayaknya perempuan dibilang gendutan

lalu adalah Ricky, komika yang tampil setelah Radita Budi memiliki cara tidak mau mendengarkan materi dari komika sebelumnya untuk mengalihkan tekanan. Ricky sengaja menggunakan earphone dan memutar Mp3 sekeras-kerasnya ketika Radita Budi tampil. Radita Budi tampil nge-kill malam itu, beberapa kali tepuk tangan hingga standing upplause dari penonton membuktikan kesuperioritasnya. Keputusan yang tepat dari Ricky, saya harap lagu yang dia dengarkan betul-betul keras dan berupa lagu rohani agar hatinya betul-betul tenang.

Anindio meminta beberapa kali tamparan pada bagian wajah agar termotivasi. begitu juga Pakde Budi, beliau meminta pukulan pada bagian lengan. Daripada hendak tampil ke panggung, mereka lebih mirip atlet gulat UFC. Apapun yang mereka lakukan, itu adalah salah satu bentuk cara menghadapi kegugupan, tekanan, bahkan ketakutan yang juga berangkat dari rasa tanggung jawab menyampaikan materi serta tanggung jawab menghibur penonton. Memacu adrenalin memang, tapi karena adrenalin itu mungkin yang membuat mereka bertahan, kecanduan terus menulis, cinta terhadap seni ini, dan akan lanjut menghibur hingga lupa bahwa mereka juga butuh hiburan.