TEKNIK PUNCHLINE: KETAWA KARENA NOSTALGIA

Sebelumnya saya ingin bilang kalau tujuan tulisan ini dibuat bukan untuk menggurui tapi sekedar sharing dari observasi melihat openmic Standup Indo Malang. Terutama berkat nonton penampilan Mas Wawan Saktiawan, Bobby Darwin, Fito dan Ulwan Fakhri. Mereka sering menggunakan diksi-diksi tentang sesuatu di masa kecil kita buat punchlinenya, sebagai contoh pakai diksi pepsi man, ctr, saint seiya, pak ogah, boboho, dll. Diksi gini juga biasanya bikin penonton ketawa sambil ngomong “lawas cuk!”

Nah jadi ada 3 alasan utama (no 2 akan mengejutkan anda!) menurut saya yang bikin diksi lawas cuk ini menarik:

  • Bikin Nostalgia

Inget masa kecil kan selalu menyenangkan. Bahkan kadang pas lagi bengong aja inget masa kecil udah bikin senyum-senyum, apalagi kalau dalam format jokes pasti efek senengnya berlipat ganda.

  • Sadar Kalau Masa Kecil Kita Normal

Pas tipe punchline gini dibawain jadi ngerasa “ooh ternyata bukan aku doang yang alamin itu.. tapi orang lain juga”. Jadi pas kita ketawa itu sebenernya sekaligus mengamini bahwa kita pernah melihat hal yang sama. Makannya sebagai orang anti sosial yang sering merasa seperti alien, saya suka banget tipe punchline ini karena pada momen ini jadi berasa bergabung dalam kubu.. umat manusia.

  • Koneksi Ke Penampil

Ibarat kalau kenalan sama cewe terus dia nonton film kartun yang sama pas kamu kecil pasti ngerasa punya koneksi yang lebih mendalam kan?. Nah ini juga sama perasaanya pas komika bawa diksi lawas gitu kita jadi berasa punya koneksi dan ikatan yang lebih mendalam ke komiknya, ini penting kan soalnya sekarang komika ada banyak dan kalau kita cuman sekedar lucu doang ga cukup. Harus punya sesuatu yang membekas di kepala penonton supaya abis pulang dia inget kita dan jadi fans kita.

Jadi itu kan sisi positifnya, sekarang kita bahas penghambatnya. Permasalahan utamanya menurut saya adalah kalau kita tampil di depan penonton yang refrensinya beda sama kita. Karena kekuatan utama dari tipe punchline ini adalah bahas sesuatu hal yang di alami sama komika dan semua penonton, bukan cuman di alami sama komikanya saja, nanti efek nostalgianya ga dapet. Mungkin ini alasan komika lebih suka tampil di depan penonton yang backgroundnya mirip dengannya supaya jokesnya lebih relatable.

Terus juga dari yang saya lihat tipe punchline nostalgia ini dapat dibagi menjadi 2 tipe:

Tipe 1 = Kita ketawa cuman karena diksi lawas itu disebut. Jadi diksinya tidak digunakan sebagai premis jokes, tapi cuman sekedar disebutin aja..

Tipe 2 = Kalau bisa buat hal yang lawas jadi jokes. Contoh yang saya ingat itu bitnya Ulwan Fakhri yang kira-kira begini: kenapa ya dora ga pernah ada versi pas dia jadi dewasa? Mungkin nanti kalau dora dewasa petualangannya malah main ke rumah diego…

Jadi tipe 2 ini kita ketawa bukan cuman karena ada diksi lawas tapi juga karena ada twist di punchlinenya gitu.

Ya itu pembahasan tentang tipe punchline nostalgia ini, banyak yang menarik sebenarnya. Dan bahkan bisa dibilang teknik callback itu juga salah satu jenis nostalgia.

Untuk penutup saya cuman mau bilang bahwa sebenarnya dalam seni semua ilmu/teknik pasti bisa dilanggar. Makannya dari yang saya tulis ini jangan di telan mentah-mentah tapi ambil sebagai pengetahuan saja dan gabungkan dengan ilmu yang kalian sudah punya sendiri..