Bisakah Kambing Terbang?

Komika Kambing Hitam Yang Tampil Di Luar Ekspektasi

Dalam kompetisi Standup Comedy selalu ada komika kambing hitam yang tampil di luar ekspetasi. Pada kompetisi Standup Comedy di TV misalnya, baik itu SUCI Kompas TV maupun SUCA Indosiar banyak komika yang awalnya tidak diunggulkan tetapi pada akhirnya berhasil menyandang gelar Juara. Kompetisi internal Standup Malang yaitu Ultras tawa juga demikian. Banyak kejutan yang terjadi selama 1 bulan sejak lomba dimulai. Para komika yang tidak diunggulkan berhasil menampilkan perlawanan sengit kepada komika yang diunggulkan. Penampilan baik dari komika kambing hitam ini membuat para komika lain senang karena kita bisa melihat teman seperjuangan yang biasanya nge-bomb sekarang berhasil mendapat tawa penonton, tetapi ada juga komika yang menonton sambil cemas (karena takut kalah taruhan).

Banyak komika yang tampil di luar ekspetasi pada Ultras Tawa, ada yang tampil lebih baik dari harapan tetapi ada juga yang lebih buruk. Salah satu komika standup malang yaitu Hanif Roziqin atau yang biasa dikenal dengan nama panggung Gepeng merupakan contoh komika yang tampil lebih baik dari ekspetasi, karena Hanif merupakan salah satu komika yang tidak di favoritkan sebelum kompetisi dimulai.  Tapi dalam 2 kali penampilannya di Ultras Tawa League Hanif berhasil mematahkan asumsi tersebut, terbukti pada tanggal 22 Februari kemarin Hanif berhasil menduduki posisi 2 dalam grup 1. Peringkat ini meningkatkan kemungkinan Hanif dapat menjadi salah satu perwakilan grup 1 untuk lolos ke tahap selanjutnya. Selama bergabung kurang lebih 2 tahun dalam komunitas dapat dibilang semalam merupakan penampilan terbaiknya, bahkan saking banyaknya tawa dan applause break yang didapat Hanif menjadi sempat sedikit nge-blank. Doi malah kaget pas pecah, padahal kan sebagai pelawak tujuannya emang dapet tawa. Makannya pas liat Hanif ini saya jadi ingat Donald Trump, awalnya ngasal pidato-pidato eh pas kepilih jadi Presiden malah kaget.


(Fotonya ga high resolution demi keamanan bagi pembaca perempuan, soalnya komika ini terlalu ganteng)

Kejutan-kejutan seperti ini yang membuat menonton kompetisi Standup Comedy menarik, karena sesungguhnya komedi merupakan seni yang jujur dimana kalau kamu lucu ya penonton ketawa, tapi kalau galucu ya ga ada yang ketawa. Banyak contoh kasus yang membuktikan hal ini terutama untuk para penikmat komedi yang sering datang ke open mic pasti sadar bahwa bukan tidak mungkin ada komika yang terkenal sudah masuk TV tapi pada malam itu kalah lucu sama komika yang baru pertama kali open mic. Soalnya di panggung komedi itu semuanya setara dan bebas berpendapat, jadi bisa dibilang Standup itu sistem komunis yang liberalis! (saya juga gangerti ini maksudnya apa, cuman pas ditulis keliatannya keren..)

Ya intinya saya ingin membahas tentang perjuangan para komika juru kunci ini karena saya ingin menunjukan sisi lain dari Standup Comedy pada masyarakat umum. Sebab banyak orang yang menganggap bahwa komedi itu tidak membutuhkan kerja keras. Hanya butuh bakat. Spontan aja di panggung. Gaperlu nulis. Menurut saya ini adalah anggapan yang salah! (bukan pemain Liverpool). Bahkan Komeng, pelawak yang terkenal sangat spontan dan sampai punya acara “spontan uhuy” saja pernah mengatakan bahwa dia berhasil mendapat kelucuan bukan dengan cara yang spontan. Komeng mengatakan bahwa setiap hari dia melatih dirinya untuk menulis 1 jokes tentang hal apapun, contoh: menulis jokes tentang rokok, jadi saat beliau tampil dan partner lawakannya membahas rokok dia hanya tinggal mengeluarkan jokes yang sudah ia tulis sebelumnya dengan cara yang seolah-olah spontan. Jadi saya selalu percaya komedi itu bisa dipelajari. Dan menurut saya hal ini bisa menjadi filosofi hidup juga, bahwa kalau kita giat melakukan sesuatu pasti usaha tidak akan mengkhianati hasil (Wetsss pesan moral haha).

Pokoknya jadi yang mau saya katakan adalah bahwa selalu menyenangkan melihat para komika yang biasanya tampil anyep berhasil pecah di hadapan penonton. Dan setiap kali saya melihat mereka pecah saya selalu bertanya kepada diri sendiri sejauh mana komika tersebut akan melangkah dalam karirnya? Sejauh mana kambing hitam bisa terbang?